Abad ke-21 ditandai dengan percepatan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Disrupsi digital, kecerdasan buatan, big data, hingga revolusi industri 4.0 telah menggeser cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi.
Dalam konteks ini, kemampuan problem solving bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan kompetensi inti yang menentukan apakah seseorang mampu bertahan dan berkembang di tengah ketidakpastian. UNESCO bahkan menegaskan bahwa keterampilan abad 21, termasuk problem solving, menjadi syarat penting bagi pendidikan modern yang relevan dengan kebutuhan zaman (UNESCO, 2019).
Problem solving dapat dipahami sebagai proses sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menemukan solusi atas suatu masalah yang kompleks. Kemampuan ini tidak hanya mencakup aspek kognitif, tetapi juga kreativitas, kolaborasi, dan pengambilan keputusan berbasis bukti. World Economic Forum (2023) menempatkan problem solving sebagai salah satu keterampilan paling dibutuhkan dalam dunia kerja masa depan, sejajar dengan critical thinking dan kreativitas. Dengan demikian, penguasaan problem solving merupakan investasi strategis bagi individu maupun organisasi.
Urgensi problem solving semakin nyata ketika kita menghadapi kompleksitas permasalahan era digital. Disinformasi, polarisasi sosial, tantangan etika penggunaan AI, hingga krisis lingkungan adalah contoh nyata masalah multidimensi yang tidak bisa diselesaikan dengan cara berpikir linear. Riset yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology (Zhang & Wang, 2025) menunjukkan bahwa siswa yang terbiasa menghadapi masalah nyata melalui pembelajaran tematik lintas disiplin mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan problem solving. Temuan ini memperkuat bahwa latihan menghadapi masalah otentik menjadi kunci pembelajaran efektif.
Namun, mengasah problem solving bukanlah perkara mudah. Sistem pendidikan kita masih banyak berfokus pada hafalan dan jawaban tunggal. Padahal, kehidupan nyata menuntut kemampuan mengelola ketidakpastian dan merumuskan beragam alternatif solusi. Brookings Institution(2022) mencatat bahwa salah satu tantangan terbesar dalam mengintegrasikan keterampilan abad 21 adalah asesmen yang belum mampu mengukur proses berpikir kompleks siswa. Dengan kata lain, hambatan terbesar seringkali bukan pada siswa, melainkan pada paradigma sistem yang terlalu sempit.
Dari perspektif organisasi, problem solving adalah pondasi inovasi. Perusahaan yang sukses di era digital adalah mereka yang mampu merespons perubahan dengan gesit, mengambil keputusan berbasis data, dan berani bereksperimen. Studi Kraus et al. (2022) dalam Technological Forecasting and Social Change menegaskan bahwa transformasi digital membutuhkan budaya organisasi yang mendukung problem solving kolektif. Tanpa hal ini, teknologi justru berpotensi melahirkan kebingungan alih-alih kemajuan.
Bagi individu, problem solving berkaitan erat dengan lifelong learning dan resiliensi. Seseorang yang terbiasa memecahkan masalah akan lebih siap menghadapi kegagalan, lebih terbuka terhadap perubahan, dan lebih cepat beradaptasi dengan situasi baru. Penelitian dalam Thinking Skills and Creativity Journal (2023) bahkan menegaskan bahwa problem solving adalah fondasi bagi lahirnya kreativitas dan inovasi. Dengan demikian, setiap upaya mengasah problem solving juga merupakan upaya membangun daya tahan mental dan keberanian mengambil risiko.
Menariknya, problem solving sejatinya bukan konsep baru dalam tradisi kita. Dalam Islam, konsep ijtihad merupakan bentuk problem solving intelektual untuk menjawab persoalan umat yang terus berkembang. Demikian pula, prinsip syura (musyawarah) menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menemukan solusi terbaik. Mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam kerangka pendidikan modern dapat menjadi kekuatan khas yang membedakan strategi bangsa kita dibanding negara lain.
Membangun kemampuan problem solving memerlukan strategi di berbagai level. Pada tingkat pendidikan, pendekatan problem-based learning dan project-based learning terbukti efektif. Pada tingkat organisasi, penerapan design thinking dan budaya inovasi sangat penting. Sementara pada tingkat individu, pengembangan mindset pertumbuhan (growth mindset) serta kebiasaan refleksi kritis akan memperkuat keterampilan problem solving dalam jangka panjang.
Namun, transformasi menuju masyarakat yang kuat dalam problem solving menuntut kesadaran kolektif. Kita perlu membangun ekosistem yang mendorong keberanian mencoba, menerima kegagalan sebagai bagian dari pembelajaran, dan menghargai proses berpikir kritis. Seperti dikatakan Albert Einstein, “Kita tidak dapat menyelesaikan masalah dengan cara berpikir yang sama ketika masalah itu diciptakan.” Kutipan ini menegaskan perlunya keberanian melampaui kebiasaan lama untuk melahirkan solusi baru.
Akhirnya, problem solving bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan sikap hidup. Ia menuntut keterbukaan, keberanian, kreativitas, dan empati. Di era disrupsi dan digitalisasi, mereka yang memiliki kemampuan problem solving akan lebih siap tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk memimpin perubahan. Oleh karena itu, mari kita refleksikan, sejauh mana kita sudah melatih diri untuk menjadi problem solver? Dan apa langkah kecil yang bisa kita ambil hari ini untuk memperkuat kemampuan itu?










