Bulan Rabiul Awal selalu membawa nuansa khusus. Udara terasa lebih sejuk, hati lebih hangat, seolah menyimpan kerinduan akan sebuah kelahiran agung yang mengubah jalannya sejarah umat manusia. Kelahiran Nabi Muhammad Saw, bukan sekadar peristiwa kelahiran, melainkan terbitnya sebuah cahaya (nur) yang akan menyinari kegelapan jahiliyah.
Cahaya ini tidak hanya menerangi, tetapi juga memantul dan menyinari setiap jiwa yang dekat dengannya, mengubah bebatuan karang menjadi mutiara, dan mengubah orang biasa menjadi pahlawan peradaban. Salah satu mutiara yang disinari cahaya itu adalah Salman al-Farisi.
Kisah Salman adalah sebuah epik pencarian kebenaran. Seorang intelektual Persia yang meninggalkan kemewahan keluarganya, berkelana dari satu agama ke agama lain, dari satu guru ke guru lain, hanya untuk menemukan “agama Ibrahim” yang hanif. Pencariannya yang panjang dan melelahkan akhirnya berbuah manis di sebuah oasis bernama Yatsrib. Di sana, ia bertemu dengan sumber cahaya itu sendiri, Rasulullah Saw. Saat ia mendengar dan melihat langsung akhlak serta ajaran Rasulullah, hatinya berbisik, “Demi Tuhan, inilah yang selama ini kucari.” Cahaya kenabian itu menyinarinya, menerangi seluruh pengetahuannya sebelumnya dan mengubahnya menjadi ilmu yang bernilai ilahiah.
Ujian terbesar yang mempertemukan ilmu Salman dengan bimbingan Nabi terjadi dalam peristiwa Perang Khandaq(Parit). Saat Kota Madinah dikepung oleh pasukan sekutu (Ahzab) yang berjumlah sangat besar, kaum muslimin berada dalam situasi genting yang hampir mustahil untuk dimenangi secara akal sehat. Ketika para sahabat berdebat dengan pikiran yang kalut, Salman al-Farisi berdiri. Didorong oleh cahaya ilmu yang ia peroleh dari Rasulullah, ia mengusulkan sebuah strategi yang tidak dikenal dalam tradisi perang Arab saat itu yaitu menggali parit untuk pertahanan.
Rasulullah Saw, sebagai pemimpin yang bijaksana, segera menangkap nilai ilmiah dari usulan ini. Beliau tidak menolaknya dengan alasan “itu bukan tradisi kita”, tetapi justru menerima dan memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk mewujudkannya. Inilah titik di mana cahaya Nabi menyinari master strategi Salman, sehingga terciptalah sebuah solusi brilian yang bersumber dari hikmah, bukan sekadar kekuatan fisik.
Allah SWT mengabadikan momen genting ini dalam Al-Qur’an, Surah Al-Ahzab ayat 9-11, yang menggambarkan betapa beratnya ujian itu dan bagaimana kesabaran serta keimanan kaum muslimin diuji. Perang Khandaq tidak dimenangkan oleh pedang semata, tetapi oleh strategi cerdas yang diilhami oleh ilmu dan disetujui oleh wahyu, lalu dikerjakan dengan kerja keras dan doa.
Dari sinergi antara Rasulullah dan Salman, kita memetik pelajaran penting yang sangat relevan hingga hari ini:
- Ilmu Adalah Anugerah yang Harus Dicari. Seperti Salman yang berkelana mencari kebenaran, kita harus menjadi pencinta ilmu sejati. Ilmu adalah cahaya yang akan membedakan yang haq dan yang batil.
- Keterbukaan pada Inovasi. Rasulullah mengajarkan untuk tidak fanatik buta pada tradisi. Jika sebuah ide, seperti strategi parit Salman, baik dan membawa maslahat, maka itu layak diterima meskipun berasal dari “luar”.
- Sinergi antara Iman dan Akal. Iman bukan berarti menolak akal. Perang Khandaq adalah bukti terbaik bagaimana akal (strategi Salman) yang disinari oleh iman (kepemimpinan Nabi) melahirkan kemenangan yang ditakdirkan oleh Allah.
- Persaudaraan yang Melampaui Suku dan Bangsa. Salman yang berasal dari Persia (non-Arab) justru menjadi pahlawan kunci bagi kaum muslimin di Arab. Ini menunjukkan bahwa cahaya kenabian menyinari semua manusia tanpa memandang etnis.
- Di momen bulan kelahiran Nabi ini, pesan terpenting yang bisa kita ambil adalah meneladani cara beliau menerangi dan memberdayakan orang di sekitarnya. Kita harus menjadi seperti Salman, yang haus akan cahaya kebenaran dan berani berinovasi. Sekaligus kita harus berusaha meneladani Rasulullah, yang mampu melihat potensi terpendam pada setiap orang dan mengubahnya menjadi kekuatan yang mengubah dunia.
Cahaya Nabi tidak padam oleh waktu. Ia terus menyala melalui teladan-teladannya, menunggu untuk diserap oleh setiap Salman-Salman masa kini yang ingin membawa perubahan dengan ilmu, iman, dan inovasi.
Author: M.Rifki,S.Ag.,M.Hum.












